large image

KABAR TERKINI

Perseroan

Public Expose

2018, Jastan Targetkan Premi Tumbuh 14%

Muhammad Ridwan | dibaca: 31 pembaca

Direktur Utama PT Asuransi Jasa Tania Tbk Basran Damanik (tengah), Komisaris Utama Jastan Achmad Mangga Barani (tiga dari kiri) berbincang dengan jajaran Direksi dan Komisaris Jastan (ki‐ka): Fauzi Yusuf, Darwin Noor, Teddy Sastra, Ade Zulfikar dan Megang Kacaribu (kanan), usai paparan publik di Jakarta, Selasa (28/11).

JAKARTA  –  PT  Asuransi  Jasa  Tania  Tbk  (Jastan)  pada  2018  masih  fokus  pada  bisnis asuransi korporasi dan menargetkan pendapatan premi tumbuh 14% mencapai Rp 306 miliar, serta  laba  tumbuh  44%  menjadi   Rp  26,39  miliar.  Sementara   itu,  untuk  mendukung pertumbuhan kinerja keuangan tersebut, sampai akhir tahun ini perseroan melakukan optimalisasi dan intensifikasi bisnis serta menyelesaikan klaim-klaim.

Direktur Jastan Ade Zulfikar mengatakan, pihaknya tetap optimistis dapat membukukan pertumbuhan bisnis yang tahun depan. Perseroan juga masih fokus pada lini bisnis asuransi properti. Target hasil underwriting  tahun depan pun sebesar Rp 98,18 miliar atau tumbuh 36% dibandingkan tahun ini. Sementara itu, untuk target hasil investasi tahun depan relatif sama sekitar Rp 10,5 miliar.

“Untuk mencapai target tahun depan, kami tentu harus menuntaskan semua kewajiban pembayaran  klaim tahun  ini. Selain  itu, kami  akan  meningkatkan  produksi.  Pada periode September-Desember  tahun ini, klaim yang harus kami bayarkan  mencapai  Rp 48 miliar, jumlah itu cukup besar karena ada klaim terkait huru-hara di Kepulauan Riau senilai Rp 20 miliar,” kata dia pada jumpa pers paparan publik Jastan di Jakarta, Selasa (28/11).
 
Berkaitan dengan klaim, dia menambahkan, total klaim perseroan periode Januari-September 2017 sebesar Rp 131 miliar. Jumlah klaim tersebut meningkat dibandingkan  periode sama tahun lalu Rp 109 miliar.
 
Pada kesempatan itu, Direktur Jastan Teddy Sastra menjelaskan, pada kuartal IV tahun ini perseroan berupaya mencapai target bisnis yang telah ditetapkan. Sumber-sumber pendapatan akan berasal dari nasabah eksisting dan renewal bisnis.
 
Tahun ini, jelas dia, Jastan menargetkan pendapatan premi bruto sebesar Rp 268,58 miliar atau tumbuh 4% dibandingkan tahun lalu Rp 259,04 miliar. “kami optimistis dapat mencapai target pertumbuhan premi bruto sebesar 4%,” kata dia. Teddy mengatakan,  target underwriting  pada 2017 sebesar Rp 72,30 miliar atau turun 6% dibandingkan tahun lalu Rp 77,22 miliar.
 
Proyeksi laba bersih sebesar 18,27 miliar atau turun 23% dibandingkan  tahun 2016 yang sebesar Rp 23,70 miliar. Sementara itu, target ekuitas sebesar Rp 193,92 miliar atau naik 6% dibandingkan tahun lalu Rp 183,53 miliar. Sampai 30 September 2017, perseroan membukukan premi bruto Rp 203,44 miliar atau naik 1% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 200,78 miliar. Hasil underwriting  Rp 45,14 miliar atau turun 16% dibandingkan  30 September  2016 yang mencapai  Rp 53,99 miliar. Laba bersih Rp 13,52 miliar, turun 37% dibandingkan  periode sama tahun lalu Rp 21,31 miliar. Sementara itu, ekuitas Rp 190,41 miliar, naik 11% dibandingkan 30 September tahun lalu Rp 171,46 miliar. Berkaitan dengan kinerja keuangan sampai 30 September 2017 tersebut, Teddy memaparkan pendapatan premi bruto mengalami sedikit pertumbuhan (naik 1%) disebabkan oleh beberapa hal.
 
Pertama,  tidak  tercapainya  premi  langsung  (direct  business),  akibat  tidak diperpanjangnya beberapa penutupan karena loss ratio yang cukup tinggi, pembatalan polis karena premi yang belum terbayarkan, dan loss renewal (kalah tender) bisnis afiliasi.
 
Kedua, kinerja premi bruto juga dipengaruhi  oleh tidak tumbuhnya  premi tidak langsung (inderect business) yang tercatat tumbuh minus 54%. Hal ini karena kenaikan kapasitas treaty/facultative  obligatory  pada setiap  ceding  company,  sehingga  excess  yang  disesikan lebih kecil. Lalu,  menurunnya  volume  reciprocal  business  inward  dari ceding,  penerapan extra OR (menahan retensi lebih besar) karena kondisi market tidak bagus (hard market), dan volume bisnis industri asuransi umum secara nasional menurun.
Kinerja  keuangan   sampai  kuartal  III-2017  tersebut,   jelas  dia,  juga  dipengaruhi   oleh penurunan hasil underwriting, yang disebabkan oleh peningkatan klaim dari bisnis langsung serta bisnis inward treaty. Lalu, pengaruh dari penurunan hasil investasi, yang disebabkan oleh penurunan suku bunga dan penurunan jumlah investasi sebagai akibat peningkatan klaim dan peningkatan piutang.

Berkaitan hal itu, jelas Teddy, perseroan melakukan berbagai upaya perbaikan dan telah dilakukan.

Pertama, perseroan fokus untuk memasarkan produk yang memberikan hasil underwriting   positif.   Produk-produk   tersebut   antara   lain   asuransi   properti,   asuransi engineering, dan asuransi marine cargo. Menambah kerja sama dengan sumber bisnis bank dan broker. Fokus pada bisnis segmen korporasi untuk menutup kekurangan target yang ada.

Kedua,  melakukan  evaluasi  bisnis  inward  treaty  dan  merencanakan  untuk  memperbaiki program reasuransi (proteksi terhadap risiko katastrop). Ketiga, mengoptimalkan  penagihan piutang premi maupun piutang reasuransi untuk memperbesar dana kelolaan investasi guna menaikkan jumlah hasil investasi.

Perseroan didirikan di Bandung pada 25 Juni 1979 dengan nama PT Maskapai Asuransi Jasa Tania. Seiring dengan perkembangan kegiatan usaha, sejak tahun 1987 domisili kantor pusat perseroan dipindahkan dari Bandung ke Jakarta. Pada tahun yang sama, perseroan mengubah nama menjadi PT Asuransi Jasa Tania. Pada 2003, perseroan melakukan go public menjadi perusahaan terbuka.

Selama beberapa dekade sampai saat ini, perseroan secara konsisten meningkatkan  kinerja operasional.   Sementara   itu,  untuk   memberikan   pelayanan   terbaik   kepada   masyarakat, perseroan memasarkan produk-produk unggulan yang dapat memberikan beragam solusi perlindungan  untuk  memenuhi  kebutuhan  nasabah  dan  mitras  bisnis.  Beberapa  produk unggulan  tersebut antara lain JT Oto, JT Griya, Asuransi  Tanaman  Perkebunan,  Asuransi Ternak, JT Care Cash Plan, dan JT Care Micro. (*) .

Sumber : Investor Daily Indonesia, Kamis 30 November 2017